Kamis, 22 Januari 2015

TUGAS POKOK DAN FUNGSI PENGHULU

 PENGERTIAN PENGHULU
Penghulu adalah Pegawai negeri sipil sebagai pencatat nikah yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku  untu melakukan pengawasan nikah / rujuk menurut Agama Islam dan kegiatan kepenghuluan.( PMA N0.30 Tahun 2005)
TUGAS POKOK PENGHULU
Melakukan perencanaan kegiatan kepenghuluan, pengawasan pencatatan nikah / rujuk, pelaksanaan pelayanan nikah / rujuk, penasihatan dan konsultasi nikah / rujuk, pemantauan pelanggaran ketentuan nikah / rujuk, pelayanan fatwa hukum munakahat, dan bimbingan muamalah, pembinaan keluarga sakinah, serta pemantauan dan evaluasi kegiatan kepenghuluan dan pengembangan kepenghuluan. ( Peraturan MENPAN Nomor:PER/62/M.PAN/6/2005  )  
FUNGSI  PENGHULU

Rabu, 24 September 2014

TEKS DOA
PADA PERINGATAN HARI JADI KOTA BANDUNG
TANGGAL 25 SEPTEMBER 2014

Alhamdulilahi Robbil ‘Alamin Assholatu Wassalu Alaa Arofil Mal Mursalin wa ‘ala alihi wasohbihi Ajmain
Yâ Allâh, Hari ini kami berkumpul, bersimpuh dihadapan-Mu, dalam rangka PERINGATAN HARI JADI KOTA BANDUNG YANG KE-204, 
Kami memuji dan memanjatkan syukur pada-Mu, atas karunia yang telah Engkau limpahkan kepada kami,
Kami memohon ampun atas khilaf, alfa, salah, dan dosa yang telah kami perbuat, Ya Allah!

Selasa, 05 Agustus 2014

Wajah Baru Pelayanan KUA Pasca terbitnya PP 48 Tahun 2014.

Terbitnya PP 48 yang ditandatangani presiden tanggal 27 Juni 2014 memang sangat ditunggu. Mungkin PP ini bisa disebut sebagai “regulasi emas” bagi KUA pasca pelarangan “salam tempel” untuk penghulu. Selain menjawab problem nikah di luar kantor dan di luar jam kerja, PP ini menjadi payung untuk mencegah “pungli” dan gratifikasi.   Nah, ketika PP 48 ini benar-benar terbit, disusul Surat Edaran Sekjen Kemenag, dan tidak lama lagi terbit PMA tentang Pengelolaan PNBP NR, terus bagaimana kira-kira wajah layanan KUA nantinya? Apakah masih seperti lagunya Dian Piesesha “Aku Masih Seperti yang Dulu” atau memiliki wajah layanan baru?   Seperti kita ketahui, Kemenag terus membenahi kualitas layanan kepada umat.

PP 48 Tahun 2014: Nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Gratis.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani dan mengesahkan draf Revisi Peraturan Pemerintah (RPP) nomor 47 tahun 2004 menjadi PP nomor 48 tahun 2014. Selanjutnya, Sekretaris Negara (Sesneg) akan melakukan proses pendistribusian PP Tarif Nikah tersebut sehingga bisa diimplementasikan di masyarakat se-Indonesia pada Senin (7/7/2014).
"Saat ini, posisinya tengah didistribusikan oleh Sekretaris Negara, Pak Suryadi, Senin (7/7/2014)Insya Allah akan didistribusikan," kata Inspektur Jenderal Kementerian Agama RI M. Jasin kepada Republika pada Sabtu sore (5/7/2014), sebagaimana dilansir laman Republika Online.
Adapun petunjuk pelaksanaan (Juklak) RPP yakni Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang

Kamis, 04 Juli 2013

KAJIAN TENTANG AKAL DAN HATI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN


Manusia seperti disebutkan dalam Al-Quran, diberikan kesempurnaan untuk menjadi Khalifah dimuka bumi ini. Kesempurnaan manusia itu telah di bekali oleh Alloh dua serangkai yang saling bekerjasama, yaitu akal dan hati. ALLAH Swt. menciptakan manusia dengan akal dan hati yang membuatnya berbeda dengan makhluk lainnya.

Rabu, 01 Mei 2013

KHUTBAH NIKAH


السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ للهِ المحََْمُوْدِ بِنِعْمَتِهِ ,ِ اْلمَعْبُوْد ِبقُدْرَتِهِ ,ِ الْمُـطاَعِ بِسُْلطاَنِهِ,ِ اْلمَرْهُوْبِ مِنْ عَذَابِهِ وَسَطْوَاتِهِ,ِ الناَّفِذِ أَمْرُهُ فىِ سمَاَئِهِ وَأَرْضِهِ ,ِ الَّذِى خَلَقَ الْخَلْقَ بِقُدْرَتِهِ, ومَيَزَّ همُ بِاَحْكَامِهِ,ِ وأَعَزَّهمُ بِدِ ْينِهِ,ِ وَأَكْرَمَهمُ بِنَبِيِّه ِصلَىَّ اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ . وَاَشْهَدُ أَنْ لاَاِلَهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ و أَ شْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آ لِهِ و أَ صْحاَبِهِ.ِ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ ناَ وَحَبِيْبِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آ لِهِ و صَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ . فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ وَقَدْ قَالَ تَعَالَى : ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômuur 4 ¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ  . وَقَال رسُوْلُ اللهِ صلَّى عليهِ وسلَّم : النِّكاَحُ سُنَّتِىْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّىْ اَمَّا بَعْدُ .
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita bersama, sehingga saat ini kita dapat hadir guna memberikan kesaksian dan doa restu kepada kedua calon mempelai yang sesaat lagi akan melaksanakan akad nikah.
Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw, keluarga, sahabat dan ummatnya yang berpegang teguh kepada sunnah-sunnahnya.
Pernikahan adalah perbuatan yang selalu diinginkan dan didambakan oleh setiap manusia yang hidup. Pernikahan itu adalah sunnah Nabi [النكاح سنتى], maka barang siapa yang tidak melaksanakan nikah, kata Nabi saw bukan golongannya [فمن رغب عن سنتئ فليس منى].  Pernikahan harus didasarkan pada agama, ibadah, dan menjalankan sunnah Nabi saw, dan bukan didasarkan pada nafsu belaka atau didasarkan tujuan lain yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Pernikahan harus atas dasar suka sama suka, saling cinta, bukan dasar paksaan, dan bersandar pada ibadah kepada Allah. Sebab, dalam menjalani kehidupan bahtera rumah tangga, bagaikan orang mengarungi samudra luas dan penuh dengan gelombang, pada siang, malam, panas dan hujan bahkan badai dan genlombang harus dilalui. Mungkin saja, cuaca tidak bersahabat yang tidak pernah kita prediksi yang dapat saja datang secara tiba-tiba.Kita harus selalu siap untuk menghadapi dan selalu mengantisipasi setiap perubahan. Maka, apabila seseorang dalan menjalankan rumah tangga tidak memiliki dasar, pedoman, mesti akan terombang-ambing dalam perjalanan rumah tangganya.
Dalam berumah tangga, kita akan melalui perjalanan panjang dan sangat melelahkan dengan tujuan untuk mecapai “pantai kebahagiaan” yang sakinah dan diridhoi Allah.. Untuk mencapai “pantai kebahagian” tersebut, tentu saja kita harus: [1] mempersiapkan diri dan mental, baik suami maupun istri, [2] mempersiapkan berbagai keperluan dan bekal agar perjalanan kita terasa aman, nyaman, dan lancar, sebab apabila datang badai dan gelombang, kita akan siap menghadapinya dengan sikap tenang, tidak grogi, tidak takut dan tidak gentar sekalipun dahsatnya badai dan gelombang tersebut, sebab kita memiliki dasar [agama] dan pedoman [al-Qur’an dan Hadis].
Untuk mengarungi perjalanan [rumah tangga] itu dengan baik dan lancar, kita perlu mempersiapkan : Pertama, kapal [rumah tangga] yang kokoh agar tidak macet dalam perjalanan. Kedua, mesin yang betul-betul baik. Ketiga, bahan bakar yang cukup dan memadai. Keempat, membawa peta dan kompas sebagai pedoman perjalanan agar tidak sesat dalam perjalanan. Kelima, membawa peralatan yang memadai untuk mengantipasi macet. Keenam, nahkoda yang pandai, lihai, dan memiliki strategi untuk mengemudi kapal.  Ketujuh, membawa bekal yang cukup dalam perjalanan.

Pertama     :      Rumah Tangga [الاسرة ], bagaikan kapal [bahtera] yang kokoh.  Rumah tangga, harus dibangun atas dasar taqwa, cinta, suka sama suka dan didukung dengan kedua belah pihak keluarga yang merestui serta mengharapkan ridho Ilahi. Selain itu,  harus mempunyai niat dan kebulatan tekad untuk berumah tangga atas dasar lillahita’ala, dengan ibadah [salat] – Insya Allah, rumah tangga akan kokoh. Berumah tangga itu sendiri juga sebagai perilaku  ibadah kepada Allah dan menjalankan sunnah Nabi saw [النكاح سنتى ].

Kedua      :     Hati [  القلب], sebagai mesin yang bagus. Artinya, suami istri harus punya tujuan yang sama. Berumah tangga bukan untuk hanya sekedar melepas nafsu birahi, melainkan harus memiliki tujuan untuk mencetak generasi-generasi bangsa yang baik, kuat dan tanggung serta bertaqwa kepada Allah swt. Tanpa punya perasaan sehati, mungkin saja tujuan tidak akan tercapai. Maka dengan dasar ini, suami istri harus tahun kepribadian masing-masing dan inilah yang dinamakan ta’aruf [تعارف ].
Ketiga      :      Akhlak [الاخلاق], sebaga bahan bakar. Dalam berumah tangga, apabila hanya berbekal atau memiliki cinta dan perasaan saja, tanpa dibekali dan atau dibarengi dengan akhlak mulia, jangan berandai-andai untuk dapat menguasai medan perjuangan yang berat itu. Akhlak adalah pondasi utama dalam beragama, kata  Abul Atahiyah :  ليست الدنيا الا بدين وليس الدين الابمكارم الاخلاق , artinya ”tidaklah dikatakan dunia kecuali dengan agama dan tidaklah dikatakan agama kecuali dengan akhlak mulia”. Maka, kita harus membangun rumah tangga dengan akhlak yang muliah.  Akhlak sebagi pondasi utama untuk membangun rumah tangga. Prinsip akhlak disini adalah saling menghargai, menghormati, menyayangi, penuh dengan senyum. Sifat ini dinamakan tabassum [التبسم] dan sifat ini  sangat dianjurkan Rasulullah saw.
Keempat     :     القران الكريم والحديث sebagai peta dan kompas. Sebagai pedoman agar tidak tersesat dalam perjalanan dan  ketika menemukan kesulitan, keresahaan, bacalah al-Qur’an dan kemudian kembalikan atau pasrah kepada Allah.  Suami dan istri harus saling mengingatkan dan ta’awun  atau kerjasama dalam menghadapi kesulitan hidup. Semua persoalan harus diselesaikan berdua dan selalu pasrah kepada Allah. Kata Baihaki,
ان ذ كرالله شفاء وان ذكرالناس داء (البيهقي)
“Ingat pada Allah sebagai obat, dan ingat pada manusia penyakit”
 Kelima   :     Nasehat  [النصيحة],  sebagai peralatan yang dibawa dalam perjlanan. Agama adalah  nasehat [الدين النصيحة], maka kembali kepada ajaran agama Islam dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga mudah terselesaikan. Maka dalam kehidupan rumah tangga, sepenuh apapun perasaan cinta suami pada istri atau sebaliknya, kesalah fahaman dan perselisihan [baik kecil maupun besar] mesti ada.  Suami dan istri harus saling mengingatkan, saling menasihati dengan sabar antara keduanya untuk mencapai kebaikan  وتواصو بالحق وتواصو بالصبر ( dan bernasehatlah dalam kebaikan dan kesabaran ) atau mungkin kita butuh nasehat-nasehat orang tua, ustadz, tokoh masyarakat, atau orang yang lebih berpengalaman, sebagai obat pencerahan untuk mencapai tujuan hidup yang mungkin salah dilakukan oleh kita. Maka, setelah mendapatkan nasehat-nasehat akan tumbuh saling percaya, saling memaafkan, dan menghargai kesalah fahaman itu. Sikap ini dinamakan takarrum  [التكارم] atau saling menghargai.
Keenam   :     Suami [الزوج ], sebagai nahkoda yang lihai. Suami harus pandai memainkan peranan, dapat menjadi panutan, cerdas melihat situasi, agar penumpang atau orang yang bersamanya merasa aman, tenang dan nyaman. Seorang suami harus memiliki ikhtiar dalam menjalankan perannya, sehingga seburuk apapun situasi dan kondisi yang dihadapinya, harus tenang, sabar, dan berserah diri pada Allah [يبتغون فضلا من الله ورضوانا ], “mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya”. Maka perumpamaan seorang suami, seperti seorang nahkoda yang menghadapi cuaca yang buruk. Dia harus tetap tenang untuk mencapai tujuan, maka secara perlahan-lahan tapi pasti dia akan lalui badai tersebut dan seluruh penumpang pasti akan menghormati dan menghargainya. Penghargaan itu akan datang dengan sendirinya, mungkin saja berupa ucapan terima kasih, mungkin ciuman, pelukan, bahkan dengan kepasrahan diri penumpang dan penumpang tersebut tiada lain adalah istri. Sikap ini dinamakan tala’ub  [التلاعب ].
Ketujuh     :    Kepasrahan  [التسليم], sebagai bekal yang cukup. Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, kita harus banyak berusaha [bekerja] dan berdo’a (وابتغ فيما اتاك الله الدار الأخرة ولا تنس نصيبك من الدونيا وأحسن كما احسن الله إليك) " . “ carilah anugrah Allah untuk kehidupan akhirat, tetapi jangan lupa nasib(bagian)mu untuk kehidupan dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik padamu”. Karena usaha atau bekerja tanpa do’a akan sia-sia, dan begitu juga sebaliknya do’a tanpa usaha atau bekerja adalah mimpi atau angan-angan belaka. Suami harus berusaha mencari nafkah untuk menghidupi istrinya. Suami dan istri harus dapat bekerja sama untuk melindungi perjalanan yang panjang, seorang suami tahu kebutuhan istri dan begitu sebaliknya istri tahu kebutuhan suami. Dengan demikian, akan terbangun sikap saling menghargai dan toleransi dalam berumah tangga. Sifat ini dinamakan tasamuh  [التسامح].
Semoga Allah memberkahi pernikahan ananda berdua”, amien yaa robbal ‘alamiieen.
اقول قولي هذا واستغفر الله العظيم لي ولكم ولوالدي ووالديكم ولمشايخي ومشايخكم ولسائر المسلمين. فاستغفروه انه هو الغفور الرحيم.
استغفر الله العظيم x  3
اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمدا رسول الله   x 3

Rabu, 26 Desember 2012

Sighat Taklik & Ijab Qabul Versi B. Inggris


And Fully the promise, verily the promise shall be questioned about“
( QS Al-Isra : 34 )

SIGHAT TAKLIK

After marriage agreement, I am ............................................. son of Mr. .............................................. I here with promise thruthfully that I will fulfill my obligation as a husband, and I will associate my wife named ................................................... daughter of Mr. ..................................................... kindly ( mu’asyarah bil ma’rufi ) according to the teaching of Islamic religion.
Furthermore, I read this sighat taklik for my wife mentioned as
follows :
Any time :
1. I leave my wife two years continuously ;
2. Or I do not give compulsory basic necessities of life three months long ;
3. Or I hurt my wife’s body / physic ;
4. Or I neglect / I do not care my wife for six months long.
Then my wife is not willing and my wife complains about her matter to the Religius Court and her complains is accepted by the court, and my wife pays money in the amount of Rp. 10.000,- ( ten
thousand rupiahs) as 'iwadh ( substitute) to me, then falls my once divorce to her.
To the court mentioned I outhorize to receive the substitute money and then to hand over it for the need of sociad devation.

Bandung, ..................................
Husband



..................................................

BISMILLAAHIRROHMAANIRROOHIIM
ASTAGH FIRULLOOHAL’ADZIIM 3 X
ASY HADU ALLAA ILAAHA ILLALLOOH,
WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARROSUULULLOOH.



Ijab :

"..............................................................., I give you in marriage to .............................., my daughter, with the dowry in term of .................. cash"

Qabul :
"I accept to marry to ............................................................., your daughter, with the dowry in term of ......................................................................, cash"

Rabu, 07 November 2012

PESAN NASIONAL



MENGEMBALIKAN HARKAT DAN MARTABAT MANUSIA
PADA DERAJAT KEMANUSIAAN
Dalam beberapa minggu belakangan ini kita menyaksikan dan membaca informasi, baik melalui media elektronik seperti televise, internet, dan yang lainnya, maupun melalui media cetak seperti koran, majalah, tabloid dan lain-lain, dimana sebagian berita yang ditayangkan berupa kekerasan yang terjadi hampir di semua kalangan. Di kalangan pelajar SMP dan SMA terjadi tawuran, yang menyebabkan nyawa seseorang yang tidak berdosa melayang. Di NTB terjadi kerusuhan yang menyebabkan 5 orang meninggal dunia. Demikian juga yang terjadi di kepulauan Aru provinsi Maluku Utara, di Papua Barat, dan ledakan bom di Poso, yang tidak sedikit melahirkan kerugian, baik mental maupun material. Peristiwa paling mutakhir adalah tawuran antar kampong di lampung, yang mengakibatkan belasan nyawa orang melayang. Ratusan rumah hangus di bakar, dan ribuan orang yang tidak berdosa mengungsi, meinggalkan kampong halaman tempat bernaungnya yang telah porak poranda.
 Hukum tidak diindahkan, emosi masyarakat mudah tersulut, dan  tindakan main hakim sendiri menjadi hal yang lumrah. Kekerasan seolah menjadi satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah, padahal masalah yang hendak diselesaikan itu hanyalah persoalan kecil atau sepele dan tidak harus diselesaikan dengan kekerasan. Kemanakah jati diri bangsa Indonesia yang dulu sangat dikenal dengan sopan santun, lemah-lembut, penuh tatakrama, penuh penghormatan, penuh kearifan, penuh kerukunan, tertanam nilai-nilai agama dan budaya ? Semuanya seolah telah hilang ditelah gelombang budaya kekerasan, sadisme, pembunuhan, permusuhan, kerakusan dan lain-lain.
 Apakah persoalan yang sebenarnya tengan terjadi dengan bangsa ini, sehingga seolah-olah kita berada di sebuah daerah yang asing yang tidak mengenal saudara, teman, kerabat dan lingkungan ? Masih adakah akal sehat dan hati nurani pada bangsa ini ? Persoalan-persoalan tersebut merupakan tantangan bagi kita sebagai umat Islam dan harus dijawab dengan konsep qur’ani serta konsep umatan wahidah yang memiliki fungsi dasar kehidupan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Imam al-Ghazali mengatakan bahwa manusia hidup berada pada dua kekuatan yang sangat besar dan sangat mempengaruhinya; yaitu kekuatan akal dan kekuatan nafsu. Kekuatan akal, mendorong manusia untuk berpikir logis dan berupaya menemukan kebenaran dengan meneliti terhadap sumber-sumber kebenaran, serta menjadi jembatan pada berbagai kesuksesan. Sedangkan nafsu mendorong manusia untuk berpikir tidak logis, bersifat rakus, merusak, menghancurkan, serta menjerumuskannya pada jurang kegagalan dan kesengsaraan. Ketika akal yang menguasai seseorang, maka dia akan bertemu dengan kesuksesan, namun ketika nafsu yang menguasainya, maka dia akan bertemu dengan kegagalan.
Relevansi teori imam al-Ghazali tersebut di atas dengan berbagai peristiwa yang telah dan tengah terjadi pada sebagian masyarakat negeri ini, jelas memberikan jawaban bahwa masyarakat negeri ini banyak yang tengah kehilangan akal sehatnya serta kekuatan akalnya dikalahkan oleh  hawa nafsunya. Oleh karena itu maka dapat dikatakan  bahwa bangsa ini tengah mengalami kegagalan dalam mewujudkan ketenangan, kedamaian, serta perlindungan terhadap jiwa masyarakatnya. Disinilah letak urgensitas pendidikan agama khususnya agama Islam dengan menanamkan nilai-nilai akhlak yang agung, menjaga nilai-nilai kemuliaan kemanusiaan serta tetap menghormati hak-hak individu dan social.
Nilai-nilai akhlak yang ditanamkan agama, khususnya agama Islam antara lain :
1)   Kasih sayang, hal ini sebagaimana di sabdakan oleh Rasulullah saw. :
    الرَّاحمُونَ يَرحمُهُم الرّحمنُ ارْحَموا مَنْ في الأرض يرحمْكُم من في السَّماءِ
Orang-orang yang yang penuh kasih-sayang akan dikasih-sayangi oleh Allah. Hendaklah kalian semua menyayangi semua yang ada di bumi, agar kalian disayangi oleh para penghuni langit. ( HR.Tirmidzi).
2)   Saling menghormati, hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah saw., yang artinya : “ Tidak termasuk ummat ku orang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak menghormati yang lebih besar “. 
3)   Musyawarah, sebagaimana Allah berfirman dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 159 :
$yJÎ6sù 7pyJômu z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xáÎ=xî É=ù=s)ø9$# (#qÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó$#ur öNçlm; öNèdöÍr$x©ur Îû ͐öDF{$# ( #sŒÎ*sù |MøBztã ö@©.uqtGsù n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ  
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Dan nilai-nilai  lainnya, yang secara tegas difirmankan Allah dalam al-Qur’an, ditegaskan oleh Rasulullas saw dalam hadits-haditsnya, serta dilaksanakan oleh para salaf al-sholih.
Selain menanamkan nilai-nilai akhlak untuk kehidupan, pendidikan Islam juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan, serta menempatkan manusia pada posisi yang mulia.
Allah berfirman dalam QS. Al- Isra : 70 :
* ôs)s9ur $oYøB§x. ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä öNßg»oYù=uHxqur Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur Nßg»oYø%yuur šÆÏiB ÏM»t7ÍhŠ©Ü9$# óOßg»uZù=žÒsùur 4n?tã 9ŽÏVŸ2 ô`£JÏiB $oYø)n=yz WxŠÅÒøÿs? ÇÐÉÈ  
dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Secara tegas ayat di atas menempatkan manusia (keturunan Nabi Adam as) sebagi makhluk yang mulia. Bukti dari kemuliaan manusia tersebut, Allah jelaskan dalam kalimat selanjutnya yakni; disediakannya berbagai fasilitas kehidupan oleh Allah SWT., berupa lautan, daratan, dan rizki yang dilimpahkan. 
Keagungan harkat dan martabat manusia ini, Allah pelihara dan dijadikan sebagai syari’at yang harus ditaati. Hal ini dapat difahami dari adanya larangan Allah SWT untuk membunuh manusia. Allah SWT telah berfirman dalam QS.al-Maidah : 32
 ô`ÏB È@ô_r& y7Ï9ºsŒ $oYö;tFŸ2 4n?tã ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) ¼çm¯Rr& `tB Ÿ@tFs% $G¡øÿtR ÎŽötóÎ/ C§øÿtR ÷rr& 7Š$|¡sù Îû ÇÚöF{$# $yJ¯Rr'x6sù Ÿ@tFs% }¨$¨Z9$# $YèÏJy_ ô`tBur $yd$uŠômr& !$uK¯Rr'x6sù $uŠômr& }¨$¨Y9$# $YèÏJy_ 4 ôs)s9ur óOßgø?uä!$y_ $uZè=ßâ ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ ¢OèO ¨bÎ) #ZŽÏWx. Oßg÷YÏiB y÷èt/ šÏ9ºsŒ Îû ÇÚöF{$# šcqèùÎŽô£ßJs9 ÇÌËÈ  
oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain[411], atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya[412]. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu[413] sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

Masih banyak ayat-ayat lain yang senada dengan ayat tersebut di atas, yang menginformsikan keharaman pembunuhan manusia. Bahkan dalam ayat lain Allah menegaskan larangan untuk membunuh itu, termasuk membunuh anak sendiri, karena takut miskin atau tidak mampu memberikan penghidupan.
Sebuah momentum yang beberapa saat yang lalu telah kita lalui, memberikan gambaran mengenai  keagungan harkat dan martabat manusia dihadapan Allah SWT. dan Allah memberikan pelajaran kepada manusia bagaimana seharusnya harkat dan martabat manusia itu dihormati.  Momentum tersebut adalah peristiwa idul adha atau hari raya qurban, yang harus direnungkan maknanya yang hakiki dan diaplikasikan di dalam kehidupan social.
Allah SWT telah berfirman di dalam al-Qur’an surat ash-Shafat ayat 102 – 111, yang menjelaskan mengenai kisah Nabi Ibrahim as beserta putranya Nabi Isma’il as. Allah SWT berfirman :
$¬Hs>sù x÷n=t/ çmyètB zÓ÷ë¡¡9$# tA$s% ¢Óo_ç6»tƒ þÎoTÎ) 3ur& Îû ÏQ$uZyJø9$# þÎoTr& y7çtr2øŒr& öÝàR$$sù #sŒ$tB 2ts? 4 tA$s% ÏMt/r'¯»tƒ ö@yèøù$# $tB ãtB÷sè? ( þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# z`ÏB tûïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÊÉËÈ   !$£Jn=sù $yJn=ór& ¼ã&©#s?ur ÈûüÎ7yfù=Ï9 ÇÊÉÌÈ   çm»oY÷ƒy»tRur br& ÞOŠÏdºtö/Î*¯»tƒ ÇÊÉÍÈ   ôs% |Mø%£|¹ !$tƒöä9$# 4 $¯RÎ) y7Ï9ºxx. ÌøgwU tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÉÎÈ   žcÎ) #x»yd uqçlm; (#às¯»n=t7ø9$# ßûüÎ7ßJø9$# ÇÊÉÏÈ   çm»oY÷ƒysùur ?xö/ÉÎ/ 5OŠÏàtã ÇÊÉÐÈ   $oYø.ts?ur Ïmøn=tã Îû tûï̍ÅzFy$# ÇÊÉÑÈ   íN»n=y #n?tã zOŠÏdºtö/Î) ÇÊÉÒÈ   y7Ï9ºxx. ÌøgwU tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÊÉÈ   ¼çm¯RÎ) ô`ÏB $tRÏŠ$t6Ïã šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÊÊÊÈ  
102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".
103. tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
104. dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
105. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
107. dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar[1285].
108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian,
109. (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".
110. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
111. Sesungguhnya ia Termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Rangkaian ayat-ayat al-Qur’an tersebut di atas, menjelaskan kepada kita peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. peristiwa tersebut adalah peristiwa yang sangat memberatkan nabi Ibrahim. Namun Nabi Ibrahim menyadari bahwa perintah itu merupakan perintah yang benar dan datang dari Dzat yang Maha Benar. Maka kemudian beliau melaksanakan perintah tersebut dengan penuh kesadaran, ketenangan, kesabaran dan ketawakalan. Buah dari kesadaran, ketenangan, kesabaran dan ketawakalan Nabi Ibrahim as kepada Allah SWT, kemudian melahirkan kesuksesan yang sangat besar, dimana kesuksesan tersebut terlukis dari pujian Allah terhadap Nabi Ibrahim dan diselamatkannya Nabi Ismail dari penyembelihan. Selanjutnya Allah mengganti kurban dari Nabi Ibrahim as tersebut dengan seekor kambing yang besar.
Dalam peristiwa tersebut di atas, ada satu poin utama yang sangat penting untuk kita jadikan sebagai sebuah catatan bersama yakni nilai penghargaan terhadap harkat kemanusiaan. Allah menggantikan Nabi Ismail yang akan disembelih, dengan seekor kambing yang besar, karena Allah SWT, sangat memahami betul tentang kemuliaan manusia. Allah sangat menghargai terhadap nilai kemanusiaan, dan Allah SWT sangat memahami betul terhadap kejiwaan manusia. Sehingga tidaklah pantas kalau manusia harus dikorbankan demi untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kalau saja pengorbanan kepada Allah yang serba Maha itu tidak pantas dengan mengorbankan manusia, tentunya apalagi kalau manusia itu harus dikorbankan kepada sesama manusia, dan lebih-lebih lagi kalau korban manusia itu hanya untuk sesuatu yang sia-sia. Dalam syari’at Islam, korban atau qurban manusia merupakan sesuatu yang diharamkan.
Oleh karena itu maka dapatlah kita fahami bahwa solusi dari persoalan kekerasan, brutalisme, sadisme, pembunuhan, pengrusakan, dan lain-lain yang tengan melanda bangsa Indonesia yang kita cintai ini tiada lain kecuali :
1.    Menggunakan akal sehat dalam menyelesaikan setiap masalah;
2.    Mengembalikan harkat kemanusiaan pada kedudukan yang tinggi dan mulia sebagaimana awal penciptaannya;
3.    Menanamkan kesadaran bahwa semua manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang telah diberi kedudukan yang mulia;
4.    Menanamkan sikap tenang saat menghadapi berbagai persoalan, baik persoalan yang menyangkut kehidupan social dan terutama yang menyangkut masalah-masalah keagamaan;
5.    Menanamkan kesabaran dalam menjalani kehidupan, karena kehidupan merupakan batu ujian bagi manusia;
6.    Menanamakan ketawakalan, karena kita sadar hanya Allah lah satu-satunya Dzat yang Maha Kuasa;
Wallahu a’lam
Bandung, 05 Nopember 2012
Ahmad Zailani AW, M.Ag